Sala Lauk dan Sambareh Pariaman

Potret Sala Lauk dan Sambareh: Kuliner Khas Pariaman.f/Mayang Gusmita

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beragam budaya. Hal tersebut pula yang membuat makanan tradisional khas Indonesia beraneka ragam. Indonesia juga memiliki aneka rempah yang lengkap sehingga membuat makanan tradisionalnya lezat. Makanan disetiap daerahnya memiliki ciri khas dan cita rasanya masing-masing yang unik. Salah satu makanan khas dari Pariaman adalah serabi atau dalam bahasa Minang disebut sambareh.

Di daerah Pariaman, sala lauak dan sambareh (serabi) merupakan makanan khas. Menurut pendapat penjual makanan ini, yaitu Ante Fira (25), sala lauak sangat diminati oleh masyarakat Pariaman maupun luar Pariaman. Resep yang digunakan Ante Fira merupakan resep turun-temurun dari keluarganya. 

Sala lauak adalah makanan gorengan khas Pariaman, Sumatera Barat yang berbahan dasar tepung beras berwarna kuning kecoklatan karena mempunyai campuran bahan yang berasal dari kunyit. Makanan ini berbentuk bola, mirip comro di Jawa Barat. Nama lain sala lauak adalah sala bulek. Di sejumlah objek wisata pantai di Kota Pariaman tercatat ada 40 pedagang yang menjual sala dengan beberapa variasinya.

Pembuatan makanan tradisional sala lauak ini tidak terlalu sulit hanya dengan mencampurkan tepung beras yang sudah disangrai dengan bahan-bahan seperti daun bawang dan bumbu yang telah disediakan, berbeda dengan sala lauak, pembuatan simbareh atau serabi lebih memakan waktu dan tenaga karena proses masaknya sangat memakan waktu.

Sala lauak ini dijual Rp1000,00 sampai Rp2000,00 per bijinya. Ante Fira mengatakan untuk hari biasa hasil jual belinya dalam sehari bisa mencapai Rp300.000. Angka tersebut akan meningkat pada masa liburan karena jumlah wisatawan meningkat dan berasal dari berbagai daerah. “Yang beli sebagian besar wisatawan, mulai dari dalam hingga luar provinsi, di antaranya Pekanbaru dan Jambi,” katanya. 

“Saya (Ante Fira) telah menjual selama 2 tahun, membuat sala lauak dan simbareh, menjual makanan tradisional ini sudah menjadi pekerjaan sehari-hari." Biasanya Ante Fira menjual sala lauak dan simbareh dengan cara berkeliling di sekitaran pantai, tetapi semenjak bulan Ramadhan Ante Fira membuat stand atau tempat menjual yang tetap didekat Pantai Gandoriah.


Reporter: Mayang Gusmita

Komentar