Aruna dan Makanan Tradisional Indonesia

Butuh waktu yang lama untuk Aruna (Dian Sastrowardoyo) melontarkan kata “enak” pada sesuatu makanan. Bahkan, Bono (Nicholas Saputra), yang menjadi seorang koki di sebuah hotel tidak mampu menaklukan lidah sahabatnya itu. Tak ayal, Bono merasa ada yang salah dengan Aruna. Menurutnya, Aruna membutuhkan penyegaran diri dengan berkuliner sembari menemaninya mencari resep baru makanan di hotel.

Itulah premis dalam film Aruna dan Lidahnya yang tayang di layar bioskop pada 2018 silam. Film garapan Edwin ini diadaptasi dari novel berjudul "Serupa Karya Laksmi Pamuntjak" yang terbit tahun 2014. Baik dalam novel maupun filmnya, kedua karya tersebut sarat dengan makanan. Dalam sebagian besar adegan, makanan menjadi sentral cerita. Sang sutrada menyajikan ragam makanan, di antaranya pengkang, nasi goreng, dan mie kepiting, choi pan, rujak soto, dan sebagainya.

Ragam makanan tersebut ditampilkan secara detail secara visual melalui bagian-bagian rinci disetiap sajian. Misalnya, campur lorjuk yang disantap dengan olahan sejenis kerang bambu serta lontong, bihun, taoge, dan kuah. Film ini menyadarkan saya bahwa Indonesia dilimpahi berbagai jenis dan ragam makanan tradisional yang aroma dan rasanya khas rempah lokal. Keberagaman rempah Indonesia itu menyusup masuk dalam berbagai menu kuliner eksotis yang indah dipandang mata sekaligus lezat dicecap lidah.

Eksotika rempah Indonesia tidak saja memadukan rasa dan aroma makanan tradisional yang khas, tetapi mengeksplorasi ingredien fungsional di dalamnya untuk berpindah dan bersemayam ke dalam tubuh sekaligus membuat raga menjadi prima dan lebih sehat. Kerinduan pun menggumpal untuk mencicipi berulang kali tanpa rasa bosan pada menu Nusantara ber-aura pedesaan.

Makanan tradisional Indonesia sangat beragam, seiring dengan beragamnya etnik dan wilayah multikulturnya. Makanan tradisional Indonesia mengandung beragam rempah-rempah, memiliki aneka teknik memasak dan berbahan-bahan lokal yang sebagian terpengaruh dari India, China, Timur Tengah, dan Eropa. Keberagaman makanan tradisional juga dipengaruhi oleh beragamnya bahan baku lokal yang tersedia di tiap-tiap daerah. Makanan tradisional memiliki peluang besar untuk ditawarkan seiring meningkatnya jumlah wisatawan yang peduli terhadap budaya dan warisan lokal, makanan tradisional bisa menjadi salah satu cara terbaik untuk mengetahui tentang budaya dan warisan lokal.


Sumber: https://www.astronauts.id/blog/makanan-khas-daerah-tiap-provinsi-di-indonesia-serta-daerah-asalnya/

Sumber: https://umkm.kompas.com/read/2022/12/10/160000483/5-tips-jitu-mengembangkan-bisnis-jajanan-tradisional


Namun, terlepas dari peran utamanya, makanan tradisional terkesan diremehkan oleh masyarakatnya sendiri. Sebaliknya, penduduk setempat memilih masakan dari produk makanan internasional yang dipasarkan secara massal, seperti McDonalds dan KFC atau makanan berantai global lainnya. Konon, salah satu jenis unggas yang enak dimakan adalah ayam hutan. Unggas jenis ini sejak kecil hidup di alam liar. Makan minum dari alam. Bernapas udara terbuka.

Tapi, tentu saja hampir tidak ada resto-resto cepat saji yang menjadikan ayam hutan sebagai menu utama untuk ayam goreng. Karena mencari ayam hutan lebih sulit ketimbang ayam biasa, sehingga ayam horn jadi pilihan tepat untuk bahan baku makanan. Selain itu, ayam horn mudah didapat. Meskisoal kelezatan daging ayam hutan adalah sesuatu yang subjektif, tapi bagi saya, yang membuat daging ayam hutan itu enak lantaran menjalani hidup sebagaimana ”kodratnya”. Ayam hutan tumbuh ”wajar” dan tidak dikerdilkan daya hidupnya oleh kerangkeng, suntikan vitamin dan juga pakan produk pabrik. Alhasil, ayam hutan nampak segar, tidak pucat, berdaging liat dan tidak tinggi lemak sebagaimana ayam horn

Apa yang saya kemukakan adalah rahasia umum. Semua orang boleh tahu,tapi tak semua orang mau ambil pusing. Di dunia modern, eksistensi lebih mengenyangkan ketimbang nasi. Zaman ini merubah manusia dari seorang ”budak perut” menjadi ”budak lidah”. Urgensi makan, yang pada awalnya sebagai sarana mensyukuri nikmat Allah dan memelihara ciptaannya, bergeser menjadi ”makan untuk kenyang”, bergeser kembali menjadi ”makan untuk cari enak” dan menjadi ”makan untuk eksis”. Itulah mengapa ayam horn lebih dikenal, diterima, dan menancap dalam benak. Andai saja semua orang atau paling tidak teman-teman saya memiliki karakter seperti Aruna, tentunya saya tidak akan melihat foto ayam horn pucat dalam status mereka, melainkan kuah rawon yang mengepul, bakmi kepiting segar siap santap, serta campur lorjuk yang menerbitkan selera.


Oleh: Beni Julianda

Komentar